Bagaimana Mengelola Uang Rp 20.000,- ?

oleh Dwi Churnia *)

Bagi kami di Sahabat Ibu, berbincang dan berdiskusi dengan ibu-ibu yang jadi anggota komunitas PRIMA adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Seperti yang kami lakukan beberapa waktu lalu berbincang tentang pengelolaan ekonomi keluarga dengan seru. Materi yang kami sampaikan dengan santai seperti obrolan tentang ekonomi keluarga ini memang kami pandang penting karena biasanya inilah yang menjadi pangkal indikator keberhasilan anggota komunitas PRIMA (PROGRAM IBU MANDIRI) ini.  Program ibu mandiri yg dilakukan dgn metode kelompok, edukasi dan fasilitasi modal ini tentu tidak akan berhasil dgn baik jika peserta tidak mengelola keuanga keluarga mereka dengan baik. Maka jadilah sore itu kami ngobrol ttg pengelolaan keuangan keluarga.

Sebelum mulai saya coba memancing diskusi dengan menampilkan gambar sebuah sinetron yang akrab dgn mereka “tukang bubur naik haji”.  Dan seperti saya tebak komentar ibu-ibu kebanyakan “kan wonten sinetron” kadose angel teng kasunyatan. Tapi diantara komentar-komentar “pesimis” itu saya menemukan beberapa komentar positif yang luar biasa. “Saget, insyaalloh kalau kita rajin menabung”. Saya tersenyum sambail mengacungkan jempol . Ya sikap optimis dan positif itulah yang sangat menyenangkan bagi kami krn sikap optimis dan berpikir positif itulah yang akan membuat ibu-ibu bisa maju dan membantu ekonomi keluarga. Untuk meyakinkan mereka saya menampilkan foto dan cerita nyata tentang seorang tukang bakso keliling yang bisa naik haji dengan biaya sendiri (hem…terus terang saya tidak tahu kisah itu nyata beneran apa tidak , saya Cuma ambil dr internet yang judulnya memang kisah nyata …nah…). Pak bakso dalam kisah itu selalu membagi penghasilannya setiap mendapatkan bayaran bakso menjadi 3 tempat, 1 di dompet untuk hidup keluarganya dan untuk modal kulakan bahan baksonya, 1 disimpan di kotak untuk infaq  dan 1 bagian lagi disimpan di laci untuk tabungan haji. Dan ternyata setelah 16 tahun konsisten menabung maka dia bisa berangkat haji bersama istrinya. Kisah itu nampaknya sedikit membuat membuka keyakinan ibu –ibu bahwa merekapun sebenarnya bisa melakukan hal yang sama.

Dari pengelolaan uang sederhana pak bakso dgn membagi uangnya dalam 3 bagian itu obrolan kami dikomunitas bergulir. Mulai dr pendapatan  yang terbatas, pengeluaran yang banyak terutama pada musim orang menikah seperti sekarang, hingga ketidakyakinan ibu-ibu bahwa mereka bisa menabung meskipun sedikit.

MIMPI…….tentu kami belum akan melangkah jauh kesana pada diskusi hari ini. Kami hanya ingin bahwa ibu-ibu merasa percaya diri bahwa mereka bisa menabung. Maka topik berikutnya yang kami diskusikan adalah mencoba belajar untuk melihat berapa pengeluaran ibu-ibu perbulan terutama kebutuhan pokok seperti beras. Hem….ternyata untuk menjawab berapa beras yg mereka konsumsi rata-rata perbulan juga tidak mudah ….

Obrolan semakin gayeng saja bersama ibu-ibu PRIMA, tiba-tiba seorang ibu yang dari tadi tidak banyak bersuara mengacungkan tangannya. “Bu boleh tanya?” sayapun mempersilahkan. “maaf bu suami saya  baiasanya member uang tidak tentu, kadang 4 hari saya diberi 20.000 kadang seminggu 20.000. Bagaimana ya caranya supaya cukup untuk kehidupan sehari-hari dan syukur bisa nabung?”. Tenggorokan saya serasa tercekat, hampir saja air mata saya keluar…tapi tentu saya harus menahan sebisa mungkin. Saya tidak boleh menampakkan keharuan saya didepan ibu-ibu apalagi saya lihat ibu-ibu lain biasa saja. Mungkin krn sebagian mereka juga bernasib sama. Paska letusan merapi ketika lahan dan ternak mereka belum pulih seperti sediakala , maka penghasilan mereka belum menentu lebih banyak dari mengambil pasir dan  jadi tukang. Terus terang saya bingung menjawabnya. Maka saya coba melempar pertanyaan ke ibu-ibu yang lain. Jualan ….ya itu ide yang bagus , apalagi ibu itu sudah ikut fasilitasi modal di PRIMA. Hanya saja pinjaman kemarin dipakai untuk beli ternak dan belum menghasilkan. “Teng dusun ragi angel jualan bu….” . “Betulkah ….?, ya mungkin lebih sulit disbanding di kota tapi pasti ada cara… Tiba-tiba saya ingat cerita seorang ibu disebuah majalah ibu yang mengalami nasib mirip ibu itu.  Akhirnya jalan keluar yang diatempuh separo uang yang diberikan suami dibelikan beras separoh lagi dia bikin bakwan dan mulailah dia jualan bakwan.  Cerita itu saya sampaikan di forum. Meski saya juga belum yakin apakah itu bisa menyelesaikan persoalan. Tapi Alhamdulillah ibu-ibu lain mengusulkan jenis jualan untuk ibu yang bertanya tadi. “Jual jelly di sekolah, jual makanan kecil, gorengan kelililing……..”. Saya tersenyum….. awal yang bagus. Meski saya yakin ibu yang bertanya belum tentu berani mengambil resiko mengikuti saran forum.

Hari semakin sore menjelang maghrib dan hari itu kami akhiri dengan kesepakatan mencoba menabung berapun jumlahnya selama 1 bulan. Bulan depan ibu-ibu berjanji akan membawa berapun hasil tabungan harian mereka dan fasilitator kami akan mencatat tabungan ibu-ibu. Senyum kami mengembang membayangkan mereka membawa tabungan entah tabungan plastik atau apapun dan berapapun yang penting bisa mereka percaya dulu bahwa sesedikit apapun penghasilan mereka mereka bisa menabung. (IR)

*) Pembina YSI Yogyakarta










Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>